Tugas 1 Perkerasan Jalan

  1. Jelaskanlah fungsi dari lapisan pondasi bawah, lapisan pondasi atas, dan lapisan permukaan
  2. Jelaskanlah prosedur penggunaan alat DCP
  3. Berilah contoh penyelidikan tanah dengan menggunakan alat DCP serta analisa hasil CBRnya
  4. Gambarkanlah lapis perkerasan jalan lentur
  5. Jelaskan beserta gambarnya (foto) jenis-jenis lapis permukaan/lapis aus
  6. jika diketahui suatu ruas jalan dengan perkerasan lentur sering terendam air akibat kurang baiknya saluran samping/drainase, berikanlah pendapat anda mengenai dampak yang akan terjadi pada ruas jalan tersebut dan bagaimana solusinya.
  7. Apakah suatu ruas jalan perlu disediakan saluran samping/drainase?jelaskan alasan anda.

9 pemikiran pada “Tugas 1 Perkerasan Jalan

  1. Nama : Farah Akbar
    Nim : 13011010

    1. Lapisan Pondasi Bawah (Subbase Course)
    Lapis pondasi bawah adalah lapisan perkerasan yang terletak di atas lapisan tanah dasar dan di bawah lapis pondasi atas.
    Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai :
    -Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
    -Lapis peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
    -Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi atas.
    -Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari beban roda-roda alat berat (akibat lemahnya daya dukung tanah dasar) pada awal-awal pelaksanaan pekerjaan.
    -Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari pengaruh cuaca terutama hujan.

    Lapisan pondasi atas (base course)
    Lapisan pondasi atas adalah lapisan perkerasan yang terletak di antara lapis pondasi bawah dan lapis permukaan.
    Lapisan pondasi atas ini berfungsi sebagai :
    -Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda dan menyebarkan beban ke lapisan di bawahnya.
    -Bantalan terhadap lapisan permukaan.
    -Bahan-bahan untuk lapis pondasi atas ini harus cukup kuat dan awet sehingga dapat menahan beban-beban roda.
    -Dalam penentuan bahan lapis pondasi ini perlu dipertimbangkan beberapa hal antara lain, kecukupan bahan setempat, harga, volume pekerjaan dan jarak angkut bahan ke lapangan.

    Lapisan Permukaan (Surface Course)
    Lapisan permukaan adalah lapisan yang bersentuhan langsung dengan beban roda kendaraan.
    Lapisan permukaan ini berfungsi sebagai :
    -Lapisan yang langsung menahan akibat beban roda kendaraan.
    -Lapisan yang langsung menahan gesekan akibat rem kendaraan (lapisaus).
    -Lapisan yang mencegah air hujan yang jatuh di atasnya tidak meresap ke lapisan bawahnya dan melemahkan lapisan tersebut.
    -Lapisan yang menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipikul oleh lapisan di bawahnya.

    2. Prosedur Analisis Data Pelaksanaan CBR dengan menggunakan alat DCP
    Pengujian dilakukan dengan menekan kerucut logam dengan spesifikasi tertentu masuk ke tanah dengan memakai pemberat khusus yang jatuh pada ketinggian tertentu. Penetrasi (dalam mm) diukur dan dicatat untuk setiap pukulan, dan kemudian dibuatkan referensi terhadap grafik korelasi untuk mendapatkan CBR yang bersangkutan.
    Prosedur percobaan DCP :
    – Letakkan penetrometer yang telah ditarik di atas permukaan tanah / sirtu yang akan diperiksa. Letakkan alat ini sedemikian rupa sehingga berada dalam posisi vertical,
    – Baca posisi awal penunjukan mistar ukur (Xo) dalam satuan mm yang terdekat.
    – Angkat palu penumbuk sampai menyentuh pemegang lalu lepaskan sehingga menumbuk landasan penumbuk. Tumbukan ini menyebabkan konus menembus tanah / lapisan sirtu dibawahnya.
    – Baca posisi penunjukan mistar ukur ( X1 ) setelah terjadi penetrasi.
    Untuk menganalisa dan menghitung nilai CBR, menggunakan metode grafis yaitu dengan memploting kedalaman penetrasi (Depth Penetration) versus Penetration Index. Setelah titik – titik terploting dicari regresi liniernya dan hasil garis regresinya

    3. pengujian dengan menggunakan alat DCP untuk mencari nilai CBR tanah. Lokasi pengujian di area parkir motor kampus unikom.
    CBR / California bearing ratio
    Didapat dari :
    – pengujian CBR lab, yaitu mengambil sample tanah kemudian dilakukan pengujian di laboratorium
    – pengujian penetrasi (cone penetrometer) dengan alat :
    DCP (dynamic cone penetrometer), berupa alat sederhana dengan indicator ukur dan beban tumbuk di atasnya.
    a. Peralatan
    – Pemberat 10 Kg (palu geser), dijatuhkan dari ketinggian 46,0 cm. sepanjang satu batang baja dengan diameter (d) = 1,6 cm untuk memukul suatu landasan.
    – Satu batang baja keras diameter (d) = 1,6 cm panjang 1,0 m dan dipasang kerucut naja keras dengan sudut 60 0.
    – Batang pengukur untuk mengukur Penetrasi ( ketelitian + 0,1 cm ), meter dan kunci.
    b. Persyaratan Pengujian
    Lokasi pemeriksaan dilakukan 1 percobaan per 50 m mendatar atau kebutuhan yang disyaratkan , Untuk daerah bukit 1 percobaan dan lembah 1 percobaan, biasanya ini dilakukan sebagai pekerjaan Quality Control pada pekerjaan pembuatan jalan.
    Proserdur Uji:
    A. Uji Lapangan
    – Pilih titik pada sumbu jalan, catat stasiun, nama jalan penghubung dan nomor, nama kabupaten.
    – Alat diletakan pada permukaan sub grade.
    – Periksa jenis bahan dan kondisi dari setiap lapisan tanah.
    – Pasang peralatan DCP dan pastikan alat siap diopersikan.
    – Dirikan peralatan pada kedudukan vertikal terhadap tanah dasar, dan ini sekarang merupakan kedudukan untuk memulai percobaan.
    B. Lokasi Pengetesan
    – Stasiun 0 + 000
    – Stasiun 0 + 050
    – Stasiun 0 + 100
    – Stasiun 0 + 150
    – Stasiun 0 + 200
    Percobaan:
    a. Kerucut dimasukan kedalam tanah dasar sampai diameter paling besar
    b. Penetrasi diukur untuk setiap pukulan sampai maximum 40 pukulan.
    c. Satu orang mengopersikan petro meter mengangkat palu dan perlahan – lahan sampai mencapai bagian atas pemukul pegangan (Handel) lalu membiarkan palu jatuh dengan bebas sedemikian sehingga memukul landasan dan pastikan bahwa penetrometer dalam posisi vertikal.
    .

    4. Lapisan perkerasan lentur jalan ada 4, yaitu:
    – Lapisan Permukaan (surface course)
    – Lapisan Pondasi Atas (base course)
    – Lapisan pondasi bawah (subbase course)
    – Lapisan tanah dasar (subgrade)

    5. Jenis-jenis lapis permukaan
    a. Burtu (laburan aspal satu lapis), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal yang ditaburi dengan satu lapis agregat bergradasi seragam, dengan tebal maksimum 2 cm
    b. Burda (laburan aspal dua lapis), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal ditaburi agregat yang dikerjakan dua kali secara berurutan dengan tebal padat maksimum 3.5 cm
    c. Latasir (lapisan tipis aspal pasir), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal dan pasiralam bergradasi menerus dicampur, dihampar dan dipadatkan pada suhu tertentu dengan tebal padat 1-2cm
    d. Buras (Laburan Aspal), Merupakan lapis penutup terdiri dari lapisan aspal taburan pasir dengan ukuran butir maksimum 3/8 inch
    e. Latasbum (Lapis tipis asbuton murni), merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran asbuton dan bahan pelunak dengan perbandingan tertentu yang dicampur secara dingin dengan tebal padat maksimum 1cm
    f. Lataston (Lapis tipis aspal beton), dikenal dengan nama hot roll sheet(HRS), merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran antara agregat bergradasi timpang, mineral pengisi(filter) dan aspal keras dengan perbandingan tertentu, yang dicampur dan dipadatkan dalam keadaan panas. Tebal padat antara 2.5-3cm

    6. Dampak yang terjadi pada ruas jalan tersebut akan berlubang karena terkena rendaman air,yang tidak teralirkan ke salurannya. Solusinya adalah menaikan ruas jalan, agar jalan lebih tinggi dibandingkan dengan saluran samping / drainase, sehingga air akan mengalir ke tempat yang lebih rendah.

    7. – Mengalirkan air hujan/air secepat mungkin keluar dari permukaan jalan dan selanjutnya dialirkan lewat saluran samping menuju saluran pembuang akhir.
    – Mencegahaliran air yang berasal dari daerah pengaliran disekitar jalan masuk kedaerah perkerasan jalan
    – Mencegah kerusakan lingkungan disekitar jalan akibat aliran air.
    – Menampung dan membuangair yang berasal dari permukaan jalan.
    – Menampung dan membuang air yang berasal dari daerah pengaliran sekitar jalan.
    – Dalam hal daerah pengaliran luas sekali atau terdapat air limbah maka untuk itu harus dibuat sistem drainase terpisah/tersendiri.

  2. 1. Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai :
    • Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
    • Lapis peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
    • Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi atas.
    • Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari beban roda-roda alat berat (akibat lemahnya daya dukung tanah dasar) pada awal-awal pelaksanaan pekerjaan.
    • Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari pengaruh cuaca terutama hujan.
    Lapisan pondasi atas ini berfungsi sebagai :
    • Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda dan menyebarkan beban ke lapisan di bawahnya.
    • Bantalan terhadap lapisan permukaan.
    Lapisan permukaan ini berfungsi sebagai :
    • Lapisan yang langsung menahan akibat beban roda kendaraan.
    • Lapisan yang langsung menahan gesekan akibat rem kendaraan (lapisaus).
    • Lapisan yang mencegah air hujan yang jatuh di atasnya tidak meresap ke lapisan bawahnya dan melemahkan lapisan tersebut.
    • Lapisan yang menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipikul oleh lapisan di bawahnya.
    2. a. Kerucut dimasukan kedalam tanah dasar sampai diameter paling besar
    b. Penetrasi diukur untuk setiap pukulan sampai maximum 40 pukulan.
    c. Satu orang mengopersikan petro meter mengangkat palu dan perlahan – lahan sampai mencapai bagian atas pemukul pegangan (Handel) lalu membiarkan palu jatuh dengan bebas sedemikian sehingga memukul landasan dan pastikan bahwa penetrometer dalam posisi vertikal.

    3. pengujian dengan menggunakan alat DCP untuk mencari nilai CBR tanah.

    CBR / California bearing ratio
    Didapat dari :
    – pengujian CBR lab, yaitu mengambil sample tanah kemudian dilakukan pengujian dilaboratorium
    – pengujian penetrasi (cone penetrometer) dengan alat :
    • DCP (dynamic cone penetrometer), berupa alat sederhana dengan indicator ukur dan beban tumbuk di atasnya. Lihat gambar 1.

    Gambar 1. Alat DCP
    a. Peralatan
    1. Pemberat 10 Kg (palu geser), dijatuhkan dari ketinggian 46,0 cm. sepanjang satu batang baja dengan diameter (d) = 1,6 cm untuk memukul suatu landasan.
    2. Satu batang baja keras diameter (d) = 1,6 cm panjang 1,0 m dan dipasang kerucut naja keras dengan sudut 60 0.
    3. Batang pengukur untuk mengukur Penetrasi ( ketelitian + 0,1 cm ), meter dan kunci.
    b. Persyaratan Pengujian
    Lokasi pemeriksaan dilakukan 1 percobaan per 50 m mendatar atau kebutuhan yang disyaratkan , Untuk daerah bukit 1 percobaan dan lembah 1 percobaan, biasanya ini dilakukan sebagai pekerjaan Quality Control pada pekerjaan pembuatan jalan.
    Proserdur Uji:
    A. Uji Lapangan
    1. Pilih titik pada sumbu jalan, catat stasiun, nama jalan penghubung dan nomor, nama kabupaten.
    2. Alat diletakan pada permukaan sub grade.
    3. Periksa jenis bahan dan kondisi dari setiap lapisan tanah.
    4. Pasang peralatan DCP dan pastikan alat siap diopersikan.
    5. Dirikan peralatan pada kedudukan vertikal terhadap tanah dasar, dan ini sekarang merupakan kedudukan untuk memulai percobaan.
    B. Lokasi Pengetesan
    1. Stasiun 0 + 000
    2. Stasiun 0 + 050
    3. Stasiun 0 + 100
    4. Stasiun 0 + 150
    4.

    Gambar 1. Lapisan perkerasan jalan lentur
    5. Fungsi lapis aus ini adalah sebagai lapisan pelindung bagi lapis permukaan untuk mencegah masuknya air dan untuk memberikankekesatan (skid resistance) permukaan jalan. Apis aus tidak diperhitungkan ikut memikul beban lalu lintas.

    6. Yang akan terjadi pada ruas jalan tersebut yaitu, sifat mengembang dan menyusutnya tanah akibat kadar air yg terlalu banyak yang akan menyebabkan retak-retak pada jalan, sehingga jalan tersebut tidak dapat menahan beban diatasnya. Seperti menahan beban kendaraan.

    7. Saluran samping atau drainase perlu disediakan di suatu ruas jalan fungsinya untuk menampung atau menyalurkan air akibat hujan, agar menjaga kekuatan dan keutuhan jalan tersebut.

  3. 1. Lapisan Pondasi bawah (subbase course) berada di bawah lapisan pondasi atas dan diatas lapisan tanah dasar. Berfungsi untuk menyebarkan beban roda dari lapisan pondasi bawah ke lapisan tanah dasar, dan juga sebagai lapisan peresapan agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.

    Lapisan pondasi atas (base course) terletak dilapisan dibawah lapisan permukaan. Berfungsi untuk menahan gaya lintang akibat beban roda dan meneruskan beban ke lapisan dibawahnya, sebagai bantalan terhadap lapisan permukaan.

    Lapisan Permukaan (surface course) merupakan lapisan paling atas pada jalan raya. Berfungsi sebagai penahan beban roda , karena lapisan ini memiliki stabilitas yang tinggi, kedap air untuk melindungi lapisan dibawahnya sehingga air mengalir ke saluran di samping jalan.

    2. Prosedur penggunaan DCP
    LANGKAH KERJA
    – Sambungkan seluruh bagian dan pastikan bahwa sambungan tangkai atas dengan landasan serta tangkai bawah dan kerucut baja sudah tersambung dengan kokoh
    – Pegangan alat yang sudah terpasang pada posisi tegak di atas dasar yang rata dan stabil,kemudian catat pembacaan 0 sebagai pembacaan awal pada mistar pengukur kedalaman
    Cara mengangkat dan menjatuhkan palu serta jumlah pukulan
    – Angkat palu pada tangkai bagian atas dengan hati-hati hingga menyentuh bagian handle
    – Lepaskan palu hngga jatuh bebas dan tertahan pada landasan. Lakukan langkah-langkah pada butir 1 dan 2 di atas sesuai dengan ketentuan sebagai berikut :
     Apabila bahan atau tanah dasar yang diuji cukup keras,maka pencatatan harus dilakukan pada kedalaman 10 mm
     Untuk pondasi bawah atau dasar yang terbuat dari bahan yang tidak keras maka harus dilakukan pembacaan kedalaman pada setiap 1 – 2 pukulan
     Apabila kecepatan penetrasi kurang dari 0,5 mm / pukulan,maka pembacaan masih dibenarkan tapi bila setelah 20 pukulan tidak menunjukkan adanya penurunan maka pengujian dihentikan
    Cara mengangkat tangkai dan peralatan DCP
    – Siapkan bahwa peralatan akan diangkat atau dicabut ke atas
    – Angkat palu dan pukullah beberapa kali dengan arah ke atas sehingga menyentuh handle dan tangkai bawah terangkat ke atas permukaan tanah
    – Lepaskan bagian-bagian yang tersambung secara hati-hati dan simpan pada tempatnya

    Cara menentukan nilai CBR dengan menggunakan formulir DCP
    – Periksa kembali hasil pengujian di lapangan yang terdapat pada formulir dan hitung akumulai jumlah pukulan dan akumulasi penetrasi setelah dikurangi pembacaan awal
    – Gunakan formulir 2 DCP berbentuk sumbu tegak dan sumbu datar di mana pada bagian tegak menunjukkan kedalaman penetrasi dan arah horizontal menunjukkan jumlah pukulan
    – Plotkan hasil pengujian lapangan pada salib sumbu di atas
    – Tarik garis yang mewakili titik koordinat tertentu yang menunjukkan lapisan yang relative seragam
    – Hitung kedalaman lapisan yang mewakili titik tersebut,yaitu selisih antara perpotongan garis-garis yang dibuat pada butir 4 dalam mm
    – Hitung kecepatan penetrasi untuk setiap pukulan
    – Gunakan gambar grafik dengan cara menarik nilai kecepatan penetrasi pada sumbu horizontal ke atas sehingga memotong garis nomor 1
    – Tarik garis dan titik potong tersebut ke arah kiri sehingga nilai CBR dapat diketahui

    3. Spengujian dengan menggunakan alat DCP untuk mencari nilai CBR tanah. Lokasi pengujian di area parkir motor kampus unikom.
    CBR / California bearing ratio
    Didapat dari :
     pengujian CBR lab, yaitu mengambil sample tanah kemudian dilakukan pengujian di laboratorium
     pengujian penetrasi (cone penetrometer) dengan alat :
    DCP (dynamic cone penetrometer), berupa alat sederhana dengan indicator ukur dan beban tumbuk di atasnya.
    a. Peralatan
    – Pemberat 10 Kg (palu geser), dijatuhkan dari ketinggian 46,0 cm. sepanjang satu batang baja dengan diameter (d) = 1,6 cm untuk memukul suatu landasan.
    – Satu batang baja keras diameter (d) = 1,6 cm panjang 1,0 m dan dipasang kerucut naja keras dengan sudut 60 0.
    – Batang pengukur untuk mengukur Penetrasi ( ketelitian + 0,1 cm ), meter dan kunci.
    b. Persyaratan Pengujian
    Lokasi pemeriksaan dilakukan 1 percobaan per 50 m mendatar atau kebutuhan yang disyaratkan , Untuk daerah bukit 1 percobaan dan lembah 1 percobaan, biasanya ini dilakukan sebagai pekerjaan Quality Control pada pekerjaan pembuatan jalan.
    Proserdur Uji:
    A. Uji Lapangan
    – Pilih titik pada sumbu jalan, catat stasiun, nama jalan penghubung dan nomor, nama kabupaten.
    – Alat diletakan pada permukaan sub grade.
    – Periksa jenis bahan dan kondisi dari setiap lapisan tanah.
    – Pasang peralatan DCP dan pastikan alat siap diopersikan.
    – Dirikan peralatan pada kedudukan vertikal terhadap tanah dasar, dan ini sekarang merupakan kedudukan untuk memulai percobaan.
    B. Lokasi Pengetesan
    – Stasiun 0 + 000
    – Stasiun 0 + 050
    – Stasiun 0 + 100
    – Stasiun 0 + 150
    – Stasiun 0 + 200
    Percobaan:
    a. Kerucut dimasukan kedalam tanah dasar sampai diameter paling besar
    b. Penetrasi diukur untuk setiap pukulan sampai maximum 40 pukulan.
    c. Satu orang mengopersikan petro meter mengangkat palu dan perlahan – lahan sampai mencapai bagian atas pemukul pegangan (Handel) lalu membiarkan palu jatuh dengan bebas sedemikian sehingga memukul landasan dan pastikan bahwa penetrometer dalam posisi vertikal.

    4. (dari lapisan paling atas) : Lapisan permukaan – lapisan pondasi atas – lapisan pondasi bawah – tanah dasar.

    5. -Burtu (laburan aspal satu lapis) tebal maksimal 2cm.
    -Burda (laburan aspal dua lapis) tebal maksimum 3,5cm.
    -Latasir (laburan tipis aspal pasir) : campuran pasir dan aspal yang dipadatkan dengan suhu tertentu dengan tebal padat 1-2cm.
    -Buras (laburan aspal) : terdiri dari lapisan aspal dan pasir dengan ukuran butir maksimum 3/8 inch.
    -Latasbum (lapis tipis asbuton murni) : terdiri dari campuran asbuton dan bahan pelunak secara dingin dengan tebal maksimum 1cm.
    -Lataston (lapis tipis aspal beton) : terdiri dari campuran antara agregat bergradasi timpang, mineral pengisi, dan aspal keras yang dicampur dalam keadaan panas . tebal padat antara 2,5 – 3cm.

    6. Tentu saja jika drainase kurang baik , akhirnya air akan menggenang di jalan , karena tidak teraliri dengan baik ke saluran drainase. Dan kemudian jalan pun akan cepat berlubang/rusak akibat sering tergenang oleh air. Solusinya : dengan memperbaiki/memperbesar saluran drainase sehingga air yang tergenang di ruas jalan bisa di aliri dengan baik ke drainase.

    7. Sangat perlu , karena kemana lagi air di ruas jalan di aliri . Dilihat dari bentuk jalan saja sudah miring ke samping , tentulah di samping ruas jalan perlu/harus di sediakan saluran drainase agar air di ruas jalan tidak menggenang di ruas jalan yang nantinya akan merusak lapisan permukaan jalan.

  4. Agung Prawira Adilaga
    13011011

    1) Fungsi-Fungsi Lapisan Jalan
    1.1. Lapisan Permukaan
    a. Lapis perkerasan penahan beban roda, lapisan mempunyai stabilitas tinggi untuk menahan beban roda selama masa pelayanan
    b. Lapis kedap air, sehingga air hujan yang jatuh di atasnya tidak menyerap kelapisan dibawahnya dan melemahkan lapisan-lapisan tersebut
    c. Lapis aus(wearing course), Lapisan yang langsung menderita gesekan akibat rem kendaraan sehingga mudah menjadi aus
    d. Lapis yang menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipukul oleh lapisan lain yang mempunyai daya dukung lebih jelek.
    1.2. Lapisan Pondasi atas
    Fungsi Lapisan atas ini antara lain sebagai :
    a. Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari betooon roda dan mennyebarkan beban ke lapisan dibawahnya
    b. Lapisan peesapan untuk lapisan pondasi bawah
    c. Bantalan terhadap lapisan permukaan
    1.3. Lapisan Pondasi Bawah
    Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai :
    a. Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
    b. Effisiensi penggunaan material . material pondasi bawah relative murahdibandingkan dengan lapisan perkerasan diatasnya.
    c. Mengurangi tebal lapisan di atasnya yang lebih mahal.
    d. Lapis peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
    e. Lapisan pertama, agar perkerasan dapat berjalan lancar.
    f. Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi atas.
    2) Prosedur penggunaan DCP
    LANGKAH KERJA
    1. Sambungkan seluruh bagian dan pastikan bahwa sambungan tangkai atas dengan landasan serta tangkai bawah dan kerucut baja sudah tersambung dengan kokoh
    2. Pegangan alat yang sudah terpasang pada posisi tegak di atas dasar yang rata dan stabil,kemudian catat pembacaan 0 sebagai pembacaan awal pada mistar pengukur kedalaman
    Cara mengangkat dan menjatuhkan palu serta jumlah pukulan
    1. Angkat palu pada tangkai bagian atas dengan hati-hati hingga menyentuh bagian handle
    2. Lepaskan palu hngga jatuh bebas dan tertahan pada landasan. Lakukan langkah-langkah pada butir 1 dan 2 di atas sesuai dengan ketentuan sebagai berikut :
     Apabila bahan atau tanah dasar yang diuji cukup keras,maka pencatatan harus dilakukan pada kedalaman 10 mm
     Untuk pondasi bawah atau dasar yang terbuat dari bahan yang tidak keras maka harus dilakukan pembacaan kedalaman pada setiap 1 – 2 pukulan
     Apabila kecepatan penetrasi kurang dari 0,5 mm / pukulan,maka pembacaan masih dibenarkan tapi bila setelah 20 pukulan tidak menunjukkan adanya penurunan maka pengujian dihentikan
    Cara mengangkat tangkai dan peralatan DCP
    1. Siapkan bahwa peralatan akan diangkat atau dicabut ke atas
    2. Angkat palu dan pukullah beberapa kali dengan arah ke atas sehingga menyentuh handle dan tangkai bawah terangkat ke atas permukaan tanah
    3) Lepaskan bagian-bagian yang tersambung secara hati-hati dan simpan pada tempatnya

    Cara menentukan nilai CBR dengan menggunakan formulir DCP
    1. Periksa kembali hasil pengujian di lapangan yang terdapat pada formulir dan hitung akumulai jumlah pukulan dan akumulasi penetrasi setelah dikurangi pembacaan awal
    2. Gunakan formulir 2 DCP berbentuk sumbu tegak dan sumbu datar di mana pada bagian tegak menunjukkan kedalaman penetrasi dan arah horizontal menunjukkan jumlah pukulan
    3. Plotkan hasil pengujian lapangan pada salib sumbu di atas
    4. Tarik garis yang mewakili titik koordinat tertentu yang menunjukkan lapisan yang relative seragam
    5. Hitung kedalaman lapisan yang mewakili titik tersebut,yaitu selisih antara perpotongan garis-garis yang dibuat pada butir 4 dalam mm
    6. Hitung kecepatan penetrasi untuk setiap pukulan
    7. Gunakan gambar grafik dengan cara menarik nilai kecepatan penetrasi pada sumbu horizontal ke atas sehingga memotong garis nomor 1
    8. Tarik garis dan titik potong tersebut ke arah kiri sehingga nilai CBR dapat diketahui
    3. Spengujian dengan menggunakan alat DCP untuk mencari nilai CBR tanah. Lokasi pengujian di area parkir motor kampus unikom.
    CBR / California bearing ratio
    Didapat dari :
     pengujian CBR lab, yaitu mengambil sample tanah kemudian dilakukan pengujian di laboratorium
     pengujian penetrasi (cone penetrometer) dengan alat :
    DCP (dynamic cone penetrometer), berupa alat sederhana dengan indicator ukur dan beban tumbuk di atasnya.
    a. Peralatan
    1. Pemberat 10 Kg (palu geser), dijatuhkan dari ketinggian 46,0 cm. sepanjang satu batang baja dengan diameter (d) = 1,6 cm untuk memukul suatu landasan.
    2. Satu batang baja keras diameter (d) = 1,6 cm panjang 1,0 m dan dipasang kerucut naja keras dengan sudut 60 0.
    3. Batang pengukur untuk mengukur Penetrasi ( ketelitian + 0,1 cm ), meter dan kunci.
    b. Persyaratan Pengujian
    Lokasi pemeriksaan dilakukan 1 percobaan per 50 m mendatar atau kebutuhan yang disyaratkan , Untuk daerah bukit 1 percobaan dan lembah 1 percobaan, biasanya ini dilakukan sebagai pekerjaan Quality Control pada pekerjaan pembuatan jalan.
    Proserdur Uji:
    A. Uji Lapangan
    1.Pilih titik pada sumbu jalan, catat stasiun, nama jalan penghubung dan nomor, nama kabupaten.
    2.Alat diletakan pada permukaan sub grade.
    3.Periksa jenis bahan dan kondisi dari setiap lapisan tanah.
    4.Pasang peralatan DCP dan pastikan alat siap diopersikan.
    5.Dirikan peralatan pada kedudukan vertikal terhadap tanah dasar, dan ini sekarang merupakan kedudukan untuk memulai percobaan.
    B. Lokasi Pengetesan
    1. Stasiun 0 + 000
    2. Stasiun 0 + 050
    3. Stasiun 0 + 100
    4. Stasiun 0 + 150
    5. Stasiun 0 + 200
    Percobaan:
    a. Kerucut dimasukan kedalam tanah dasar sampai diameter paling besar
    b. Penetrasi diukur untuk setiap pukulan sampai maximum 40 pukulan.
    c. Satu orang mengopersikan petro meter mengangkat palu dan perlahan – lahan sampai mencapai bagian atas pemukul pegangan (Handel) lalu membiarkan palu jatuh dengan bebas sedemikian sehingga memukul landasan dan pastikan bahwa penetrometer dalam posisi vertikal.

    4) Lapisan perkerasan lentur jalan ada 4, yaitu:
    1.Lapisan Permukaan (surface course)
    2.Lapisan Pondasi Atas (base course)
    3.Lapisan pondasi bawah (subbase course)
    4.Lapisan tanah dasar (subgrade)

    5) Jenis-jenis lapis permukaan
    5.1. Burtu (laburan aspal satu lapis), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal yang ditaburi dengan satu lapis agregat bergradasi seragam, dengan tebal maksimum 2 cm
    5.2. Burda (laburan aspal dua lapis), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal ditaburi agregat yang dikerjakan dua kali secara berurutan dengan tebal padat maksimum 3.5 cm
    5.3. Latasir (lapisan tipis aspal pasir), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal dan pasiralam bergradasi menerus dicampur, dihampar dan dipadatkan pada suhu tertentu dengan tebal padat 1-2cm
    5.4. Buras (Laburan Aspal), Merupakan lapis penutup terdiri dari lapisan aspal taburan pasir dengan ukuran butir maksimum 3/8 inch
    5.5. Latasbum(Lapis tipis asbuton murni), merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran asbuton dan bahan pelunak dengan perbandingan tertentu yang dicampur secara dingin dengan tebal padat maksimum 1cm
    5.6. Lataston(Lapis tipis aspal beton), dikenal dengan nama hot roll sheet(HRS), merupakan lapis penutupyang terdiri dari campuran antara agregat bergradasi timpang, mineral pengisi(filter) dan aspal keras dengan perbandingan tertentu, yng dicampur dan dipadatkan dalam keadaan panas. Tebal padat antara 2.5-3cm
    6) Menurut Pendapat saya permukaan lentur pada jalan harus di tinggikan dengan menambah lapisan permukaan dan saluran drainase haru sdi lebarkan agar volume air yang mengalir saat hujan bias tertapung cara lain dengan membuat lebih dalam lagi saluran drainasenya apabila tidak bias di tambah lebar draiinasenya.
    7) Perlu, agar saat keadaan hujan air yang mengalir bias langsung terbuang ke saluran drainase, apabila tidak terdapat saluran drainase sering terjadinya banjir, apabila struktur jalan menggunakan aspal, pada sifat aspal melepaskan ikatanya terhadap batuan atau pasir akibatnya jalan jadi cepat rusak apabila tidak terdapat saluran drainase.

  5. Ahmad Haris
    13011005

    1. Fungsi-Fungsi Lapisan Jalan
    1.1. Lapisan Permukaan
    a. Lapis perkerasan penahan beban roda, lapisan mempunyai stabilitas tinggi untuk menahan beban roda selama masa pelayanan
    b. Lapis kedap air, sehingga air hujan yang jatuh di atasnya tidak menyerap kelapisan dibawahnya dan melemahkan lapisan-lapisan tersebut
    c. Lapis aus(wearing course), Lapisan yang langsung menderita gesekan akibat rem kendaraan sehingga mudah menjadi aus
    d. Lapis yang menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipukul oleh lapisan lain yang mempunyai daya dukung lebih jelek.
    1.2. Lapisan Pondasi atas
    Fungsi Lapisan atas ini antara lain sebagai :
    a. Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari betooon roda dan mennyebarkan beban ke lapisan dibawahnya
    b. Lapisan peesapan untuk lapisan pondasi bawah
    c. Bantalan terhadap lapisan permukaan
    1.3. Lapisan Pondasi Bawah
    Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai :
    a. Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
    b. Effisiensi penggunaan material . material pondasi bawah relative murahdibandingkan dengan lapisan perkerasan diatasnya.
    c. Mengurangi tebal lapisan di atasnya yang lebih mahal.
    d. Lapis peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
    e. Lapisan pertama, agar perkerasan dapat berjalan lancar.
    f. Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi atas.
    2. Prosedur penggunaan DCP
    LANGKAH KERJA
    1. Sambungkan seluruh bagian dan pastikan bahwa sambungan tangkai atas dengan landasan serta tangkai bawah dan kerucut baja sudah tersambung dengan kokoh
    2. Pegangan alat yang sudah terpasang pada posisi tegak di atas dasar yang rata dan stabil,kemudian catat pembacaan 0 sebagai pembacaan awal pada mistar pengukur kedalaman
    Cara mengangkat dan menjatuhkan palu serta jumlah pukulan
    1. Angkat palu pada tangkai bagian atas dengan hati-hati hingga menyentuh bagian handle
    2. Lepaskan palu hngga jatuh bebas dan tertahan pada landasan. Lakukan langkah-langkah pada butir 1 dan 2 di atas sesuai dengan ketentuan sebagai berikut :
     Apabila bahan atau tanah dasar yang diuji cukup keras,maka pencatatan harus dilakukan pada kedalaman 10 mm
     Untuk pondasi bawah atau dasar yang terbuat dari bahan yang tidak keras maka harus dilakukan pembacaan kedalaman pada setiap 1 – 2 pukulan
     Apabila kecepatan penetrasi kurang dari 0,5 mm / pukulan,maka pembacaan masih dibenarkan tapi bila setelah 20 pukulan tidak menunjukkan adanya penurunan maka pengujian dihentikan
    Cara mengangkat tangkai dan peralatan DCP
    1. Siapkan bahwa peralatan akan diangkat atau dicabut ke atas
    2. Angkat palu dan pukullah beberapa kali dengan arah ke atas sehingga menyentuh handle dan tangkai bawah terangkat ke atas permukaan tanah
    3. Lepaskan bagian-bagian yang tersambung secara hati-hati dan simpan pada tempatnya

    Cara menentukan nilai CBR dengan menggunakan formulir DCP
    1. Periksa kembali hasil pengujian di lapangan yang terdapat pada formulir dan hitung akumulai jumlah pukulan dan akumulasi penetrasi setelah dikurangi pembacaan awal
    2. Gunakan formulir 2 DCP berbentuk sumbu tegak dan sumbu datar di mana pada bagian tegak menunjukkan kedalaman penetrasi dan arah horizontal menunjukkan jumlah pukulan
    3. Plotkan hasil pengujian lapangan pada salib sumbu di atas
    4. Tarik garis yang mewakili titik koordinat tertentu yang menunjukkan lapisan yang relative seragam
    5. Hitung kedalaman lapisan yang mewakili titik tersebut,yaitu selisih antara perpotongan garis-garis yang dibuat pada butir 4 dalam mm
    6. Hitung kecepatan penetrasi untuk setiap pukulan
    7. Gunakan gambar grafik dengan cara menarik nilai kecepatan penetrasi pada sumbu horizontal ke atas sehingga memotong garis nomor 1
    8. Tarik garis dan titik potong tersebut ke arah kiri sehingga nilai CBR dapat diketahui
    3. Spengujian dengan menggunakan alat DCP untuk mencari nilai CBR tanah. Lokasi pengujian di area parkir motor kampus unikom.
    CBR / California bearing ratio
    Didapat dari :
     pengujian CBR lab, yaitu mengambil sample tanah kemudian dilakukan pengujian di laboratorium
     pengujian penetrasi (cone penetrometer) dengan alat :
    DCP (dynamic cone penetrometer), berupa alat sederhana dengan indicator ukur dan beban tumbuk di atasnya.
    a. Peralatan
    1. Pemberat 10 Kg (palu geser), dijatuhkan dari ketinggian 46,0 cm. sepanjang satu batang baja dengan diameter (d) = 1,6 cm untuk memukul suatu landasan.
    2. Satu batang baja keras diameter (d) = 1,6 cm panjang 1,0 m dan dipasang kerucut naja keras dengan sudut 60 0.
    3. Batang pengukur untuk mengukur Penetrasi ( ketelitian + 0,1 cm ), meter dan kunci.
    b. Persyaratan Pengujian
    Lokasi pemeriksaan dilakukan 1 percobaan per 50 m mendatar atau kebutuhan yang disyaratkan , Untuk daerah bukit 1 percobaan dan lembah 1 percobaan, biasanya ini dilakukan sebagai pekerjaan Quality Control pada pekerjaan pembuatan jalan.
    Proserdur Uji:
    A. Uji Lapangan
    1. Pilih titik pada sumbu jalan, catat stasiun, nama jalan penghubung dan nomor, nama kabupaten.
    2. Alat diletakan pada permukaan sub grade.
    3. Periksa jenis bahan dan kondisi dari setiap lapisan tanah.
    4. Pasang peralatan DCP dan pastikan alat siap diopersikan.
    5. Dirikan peralatan pada kedudukan vertikal terhadap tanah dasar, dan ini sekarang merupakan kedudukan untuk memulai percobaan.
    B. Lokasi Pengetesan
    1. Stasiun 0 + 000
    2. Stasiun 0 + 050
    3. Stasiun 0 + 100
    4. Stasiun 0 + 150
    5. Stasiun 0 + 200
    Percobaan:
    a. Kerucut dimasukan kedalam tanah dasar sampai diameter paling besar
    b. Penetrasi diukur untuk setiap pukulan sampai maximum 40 pukulan.
    c. Satu orang mengopersikan petro meter mengangkat palu dan perlahan – lahan sampai mencapai bagian atas pemukul pegangan (Handel) lalu membiarkan palu jatuh dengan bebas sedemikian sehingga memukul landasan dan pastikan bahwa penetrometer dalam posisi vertikal.

    4. Lapisan perkerasan lentur jalan ada 4, yaitu:
    1. Lapisan Permukaan (surface course)
    2. Lapisan Pondasi Atas (base course)
    3. Lapisan pondasi bawah (subbase course)
    4. Lapisan tanah dasar (subgrade)

    5. Jenis-jenis lapis permukaan
    5.1. Burtu (laburan aspal satu lapis), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal yang ditaburi dengan satu lapis agregat bergradasi seragam, dengan tebal maksimum 2 cm
    5.2. Burda (laburan aspal dua lapis), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal ditaburi agregat yang dikerjakan dua kali secara berurutan dengan tebal padat maksimum 3.5 cm
    5.3. Latasir (lapisan tipis aspal pasir), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal dan pasiralam bergradasi menerus dicampur, dihampar dan dipadatkan pada suhu tertentu dengan tebal padat 1-2cm
    5.4. Buras (Laburan Aspal), Merupakan lapis penutup terdiri dari lapisan aspal taburan pasir dengan ukuran butir maksimum 3/8 inch
    5.5. Latasbum(Lapis tipis asbuton murni), merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran asbuton dan bahan pelunak dengan perbandingan tertentu yang dicampur secara dingin dengan tebal padat maksimum 1cm
    5.6. Lataston(Lapis tipis aspal beton), dikenal dengan nama hot roll sheet(HRS), merupakan lapis penutupyang terdiri dari campuran antara agregat bergradasi timpang, mineral pengisi(filter) dan aspal keras dengan perbandingan tertentu, yng dicampur dan dipadatkan dalam keadaan panas. Tebal padat antara 2.5-3cm
    6. Menurut Pendapat saya permukaan lentur pada jalan harus di tinggikan dengan menambah lapisan permukaan dan saluran drainase haru sdi lebarkan agar volume air yang mengalir saat hujan bias tertapung cara lain dengan membuat lebih dalam lagi saluran drainasenya apabila tidak bias di tambah lebar draiinasenya.
    7. Perlu, agar saat keadaan hujan air yang mengalir bias langsung terbuang ke saluran drainase, apabila tidak terdapat saluran drainase sering terjadinya banjir, apabila struktur jalan menggunakan aspal, pada sifat aspal melepaskan ikatanya terhadap batuan atau pasir akibatnya jalan jadi cepat rusak apabila tidak terdapat saluran drainase.

  6. Nama : Nino Cokro Busro
    NIM : 13011008

    1. Fungsi-Fungsi Lapisan Jalan
    1.1. Lapisan Permukaan
    a. Lapis perkerasan penahan beban roda, lapisan mempunyai stabilitas tinggi untuk menahan beban roda selama masa pelayanan
    b. Lapis kedap air, sehingga air hujan yang jatuh di atasnya tidak menyerap kelapisan dibawahnya dan melemahkan lapisan-lapisan tersebut
    c. Lapis aus(wearing course), Lapisan yang langsung menderita gesekan akibat rem kendaraan sehingga mudah menjadi aus
    d. Lapis yang menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipukul oleh lapisan lain yang mempunyai daya dukung lebih jelek.
    1.2. Lapisan Pondasi atas
    Fungsi Lapisan atas ini antara lain sebagai :
    a. Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari betooon roda dan mennyebarkan beban ke lapisan dibawahnya
    b. Lapisan peesapan untuk lapisan pondasi bawah
    c. Bantalan terhadap lapisan permukaan
    1.3. Lapisan Pondasi Bawah
    Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai :
    a. Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
    b. Effisiensi penggunaan material . material pondasi bawah relative murahdibandingkan dengan lapisan perkerasan diatasnya.
    c. Mengurangi tebal lapisan di atasnya yang lebih mahal.
    d. Lapis peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
    e. Lapisan pertama, agar perkerasan dapat berjalan lancar.
    f. Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi atas.
    2. Prosedur penggunaan DCP
    LANGKAH KERJA
    1. Sambungkan seluruh bagian dan pastikan bahwa sambungan tangkai atas dengan landasan serta tangkai bawah dan kerucut baja sudah tersambung dengan kokoh
    2. Pegangan alat yang sudah terpasang pada posisi tegak di atas dasar yang rata dan stabil,kemudian catat pembacaan 0 sebagai pembacaan awal pada mistar pengukur kedalaman
    Cara mengangkat dan menjatuhkan palu serta jumlah pukulan
    1. Angkat palu pada tangkai bagian atas dengan hati-hati hingga menyentuh bagian handle
    2. Lepaskan palu hngga jatuh bebas dan tertahan pada landasan. Lakukan langkah-langkah pada butir 1 dan 2 di atas sesuai dengan ketentuan sebagai berikut :
     Apabila bahan atau tanah dasar yang diuji cukup keras,maka pencatatan harus dilakukan pada kedalaman 10 mm
     Untuk pondasi bawah atau dasar yang terbuat dari bahan yang tidak keras maka harus dilakukan pembacaan kedalaman pada setiap 1 – 2 pukulan
     Apabila kecepatan penetrasi kurang dari 0,5 mm / pukulan,maka pembacaan masih dibenarkan tapi bila setelah 20 pukulan tidak menunjukkan adanya penurunan maka pengujian dihentikan
    Cara mengangkat tangkai dan peralatan DCP
    1. Siapkan bahwa peralatan akan diangkat atau dicabut ke atas
    2. Angkat palu dan pukullah beberapa kali dengan arah ke atas sehingga menyentuh handle dan tangkai bawah terangkat ke atas permukaan tanah
    3. Lepaskan bagian-bagian yang tersambung secara hati-hati dan simpan pada tempatnya

    Cara menentukan nilai CBR dengan menggunakan formulir DCP
    1. Periksa kembali hasil pengujian di lapangan yang terdapat pada formulir dan hitung akumulai jumlah pukulan dan akumulasi penetrasi setelah dikurangi pembacaan awal
    2. Gunakan formulir 2 DCP berbentuk sumbu tegak dan sumbu datar di mana pada bagian tegak menunjukkan kedalaman penetrasi dan arah horizontal menunjukkan jumlah pukulan
    3. Plotkan hasil pengujian lapangan pada salib sumbu di atas
    4. Tarik garis yang mewakili titik koordinat tertentu yang menunjukkan lapisan yang relative seragam
    5. Hitung kedalaman lapisan yang mewakili titik tersebut,yaitu selisih antara perpotongan garis-garis yang dibuat pada butir 4 dalam mm
    6. Hitung kecepatan penetrasi untuk setiap pukulan
    7. Gunakan gambar grafik dengan cara menarik nilai kecepatan penetrasi pada sumbu horizontal ke atas sehingga memotong garis nomor 1
    8. Tarik garis dan titik potong tersebut ke arah kiri sehingga nilai CBR dapat diketahui
    3. Spengujian dengan menggunakan alat DCP untuk mencari nilai CBR tanah. Lokasi pengujian di area parkir motor kampus unikom.
    CBR / California bearing ratio
    Didapat dari :
     pengujian CBR lab, yaitu mengambil sample tanah kemudian dilakukan pengujian di laboratorium
     pengujian penetrasi (cone penetrometer) dengan alat :
    DCP (dynamic cone penetrometer), berupa alat sederhana dengan indicator ukur dan beban tumbuk di atasnya.
    a. Peralatan
    1. Pemberat 10 Kg (palu geser), dijatuhkan dari ketinggian 46,0 cm. sepanjang satu batang baja dengan diameter (d) = 1,6 cm untuk memukul suatu landasan.
    2. Satu batang baja keras diameter (d) = 1,6 cm panjang 1,0 m dan dipasang kerucut naja keras dengan sudut 60 0.
    3. Batang pengukur untuk mengukur Penetrasi ( ketelitian + 0,1 cm ), meter dan kunci.
    b. Persyaratan Pengujian
    Lokasi pemeriksaan dilakukan 1 percobaan per 50 m mendatar atau kebutuhan yang disyaratkan , Untuk daerah bukit 1 percobaan dan lembah 1 percobaan, biasanya ini dilakukan sebagai pekerjaan Quality Control pada pekerjaan pembuatan jalan.
    Proserdur Uji:
    A. Uji Lapangan
    1. Pilih titik pada sumbu jalan, catat stasiun, nama jalan penghubung dan nomor, nama kabupaten.
    2. Alat diletakan pada permukaan sub grade.
    3. Periksa jenis bahan dan kondisi dari setiap lapisan tanah.
    4. Pasang peralatan DCP dan pastikan alat siap diopersikan.
    5. Dirikan peralatan pada kedudukan vertikal terhadap tanah dasar, dan ini sekarang merupakan kedudukan untuk memulai percobaan.
    B. Lokasi Pengetesan
    1. Stasiun 0 + 000
    2. Stasiun 0 + 050
    3. Stasiun 0 + 100
    4. Stasiun 0 + 150
    5. Stasiun 0 + 200
    Percobaan:
    a. Kerucut dimasukan kedalam tanah dasar sampai diameter paling besar
    b. Penetrasi diukur untuk setiap pukulan sampai maximum 40 pukulan.
    c. Satu orang mengopersikan petro meter mengangkat palu dan perlahan – lahan sampai mencapai bagian atas pemukul pegangan (Handel) lalu membiarkan palu jatuh dengan bebas sedemikian sehingga memukul landasan dan pastikan bahwa penetrometer dalam posisi vertikal.

    4. Lapisan perkerasan lentur jalan ada 4, yaitu:
    1. Lapisan Permukaan (surface course)
    2. Lapisan Pondasi Atas (base course)
    3. Lapisan pondasi bawah (subbase course)
    4. Lapisan tanah dasar (subgrade)

    5. Jenis-jenis lapis permukaan
    5.1. Burtu (laburan aspal satu lapis), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal yang ditaburi dengan satu lapis agregat bergradasi seragam, dengan tebal maksimum 2 cm
    5.2. Burda (laburan aspal dua lapis), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal ditaburi agregat yang dikerjakan dua kali secara berurutan dengan tebal padat maksimum 3.5 cm
    5.3. Latasir (lapisan tipis aspal pasir), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal dan pasiralam bergradasi menerus dicampur, dihampar dan dipadatkan pada suhu tertentu dengan tebal padat 1-2cm
    5.4. Buras (Laburan Aspal), Merupakan lapis penutup terdiri dari lapisan aspal taburan pasir dengan ukuran butir maksimum 3/8 inch
    5.5. Latasbum(Lapis tipis asbuton murni), merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran asbuton dan bahan pelunak dengan perbandingan tertentu yang dicampur secara dingin dengan tebal padat maksimum 1cm
    5.6. Lataston(Lapis tipis aspal beton), dikenal dengan nama hot roll sheet(HRS), merupakan lapis penutupyang terdiri dari campuran antara agregat bergradasi timpang, mineral pengisi(filter) dan aspal keras dengan perbandingan tertentu, yng dicampur dan dipadatkan dalam keadaan panas. Tebal padat antara 2.5-3cm
    6. Menurut Pendapat saya permukaan lentur pada jalan harus di tinggikan dengan menambah lapisan permukaan dan saluran drainase haru sdi lebarkan agar volume air yang mengalir saat hujan bias tertapung cara lain dengan membuat lebih dalam lagi saluran drainasenya apabila tidak bias di tambah lebar draiinasenya.
    7. Perlu, agar saat keadaan hujan air yang mengalir bias langsung terbuang ke saluran drainase, apabila tidak terdapat saluran drainase sering terjadinya banjir, apabila struktur jalan menggunakan aspal, pada sifat aspal melepaskan ikatanya terhadap batuan atau pasir akibatnya jalan jadi cepat rusak apabila tidak terdapat saluran drainase.

    1. 1. Fungsi-Fungsi Lapisan Jalan
      1.1. Lapisan Permukaan
      a. Lapis perkerasan penahan beban roda, lapisan mempunyai stabilitas tinggi untuk menahan beban roda selama masa pelayanan
      b. Lapis kedap air, sehingga air hujan yang jatuh di atasnya tidak menyerap kelapisan dibawahnya dan melemahkan lapisan-lapisan tersebut
      c. Lapis aus(wearing course), Lapisan yang langsung menderita gesekan akibat rem kendaraan sehingga mudah menjadi aus
      d. Lapis yang menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipukul oleh lapisan lain yang mempunyai daya dukung lebih jelek.
      1.2. Lapisan Pondasi atas
      Fungsi Lapisan atas ini antara lain sebagai :
      a. Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari betooon roda dan mennyebarkan beban ke lapisan dibawahnya
      b. Lapisan peesapan untuk lapisan pondasi bawah
      c. Bantalan terhadap lapisan permukaan
      1.3. Lapisan Pondasi Bawah
      Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai :
      a. Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
      b. Effisiensi penggunaan material . material pondasi bawah relative murahdibandingkan dengan lapisan perkerasan diatasnya.
      c. Mengurangi tebal lapisan di atasnya yang lebih mahal.
      d. Lapis peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
      e. Lapisan pertama, agar perkerasan dapat berjalan lancar.
      f. Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi atas.
      2. Prosedur penggunaan DCP
      LANGKAH KERJA
      1. Sambungkan seluruh bagian dan pastikan bahwa sambungan tangkai atas dengan landasan serta tangkai bawah dan kerucut baja sudah tersambung dengan kokoh
      2. Pegangan alat yang sudah terpasang pada posisi tegak di atas dasar yang rata dan stabil,kemudian catat pembacaan 0 sebagai pembacaan awal pada mistar pengukur kedalaman
      Cara mengangkat dan menjatuhkan palu serta jumlah pukulan
      1. Angkat palu pada tangkai bagian atas dengan hati-hati hingga menyentuh bagian handle
      2. Lepaskan palu hngga jatuh bebas dan tertahan pada landasan. Lakukan langkah-langkah pada butir 1 dan 2 di atas sesuai dengan ketentuan sebagai berikut :
       Apabila bahan atau tanah dasar yang diuji cukup keras,maka pencatatan harus dilakukan pada kedalaman 10 mm
       Untuk pondasi bawah atau dasar yang terbuat dari bahan yang tidak keras maka harus dilakukan pembacaan kedalaman pada setiap 1 – 2 pukulan
       Apabila kecepatan penetrasi kurang dari 0,5 mm / pukulan,maka pembacaan masih dibenarkan tapi bila setelah 20 pukulan tidak menunjukkan adanya penurunan maka pengujian dihentikan
      Cara mengangkat tangkai dan peralatan DCP
      1. Siapkan bahwa peralatan akan diangkat atau dicabut ke atas
      2. Angkat palu dan pukullah beberapa kali dengan arah ke atas sehingga menyentuh handle dan tangkai bawah terangkat ke atas permukaan tanah
      3. Lepaskan bagian-bagian yang tersambung secara hati-hati dan simpan pada tempatnya

      Cara menentukan nilai CBR dengan menggunakan formulir DCP
      1. Periksa kembali hasil pengujian di lapangan yang terdapat pada formulir dan hitung akumulai jumlah pukulan dan akumulasi penetrasi setelah dikurangi pembacaan awal
      2. Gunakan formulir 2 DCP berbentuk sumbu tegak dan sumbu datar di mana pada bagian tegak menunjukkan kedalaman penetrasi dan arah horizontal menunjukkan jumlah pukulan
      3. Plotkan hasil pengujian lapangan pada salib sumbu di atas
      4. Tarik garis yang mewakili titik koordinat tertentu yang menunjukkan lapisan yang relative seragam
      5. Hitung kedalaman lapisan yang mewakili titik tersebut,yaitu selisih antara perpotongan garis-garis yang dibuat pada butir 4 dalam mm
      6. Hitung kecepatan penetrasi untuk setiap pukulan
      7. Gunakan gambar grafik dengan cara menarik nilai kecepatan penetrasi pada sumbu horizontal ke atas sehingga memotong garis nomor 1
      8. Tarik garis dan titik potong tersebut ke arah kiri sehingga nilai CBR dapat diketahui
      3. Spengujian dengan menggunakan alat DCP untuk mencari nilai CBR tanah. Lokasi pengujian di area parkir motor kampus unikom.
      CBR / California bearing ratio
      Didapat dari :
       pengujian CBR lab, yaitu mengambil sample tanah kemudian dilakukan pengujian di laboratorium
       pengujian penetrasi (cone penetrometer) dengan alat :
      DCP (dynamic cone penetrometer), berupa alat sederhana dengan indicator ukur dan beban tumbuk di atasnya.
      a. Peralatan
      1. Pemberat 10 Kg (palu geser), dijatuhkan dari ketinggian 46,0 cm. sepanjang satu batang baja dengan diameter (d) = 1,6 cm untuk memukul suatu landasan.
      2. Satu batang baja keras diameter (d) = 1,6 cm panjang 1,0 m dan dipasang kerucut naja keras dengan sudut 60 0.
      3. Batang pengukur untuk mengukur Penetrasi ( ketelitian + 0,1 cm ), meter dan kunci.
      b. Persyaratan Pengujian
      Lokasi pemeriksaan dilakukan 1 percobaan per 50 m mendatar atau kebutuhan yang disyaratkan , Untuk daerah bukit 1 percobaan dan lembah 1 percobaan, biasanya ini dilakukan sebagai pekerjaan Quality Control pada pekerjaan pembuatan jalan.
      Proserdur Uji:
      A. Uji Lapangan
      1. Pilih titik pada sumbu jalan, catat stasiun, nama jalan penghubung dan nomor, nama kabupaten.
      2. Alat diletakan pada permukaan sub grade.
      3. Periksa jenis bahan dan kondisi dari setiap lapisan tanah.
      4. Pasang peralatan DCP dan pastikan alat siap diopersikan.
      5. Dirikan peralatan pada kedudukan vertikal terhadap tanah dasar, dan ini sekarang merupakan kedudukan untuk memulai percobaan.
      B. Lokasi Pengetesan
      1. Stasiun 0 + 000
      2. Stasiun 0 + 050
      3. Stasiun 0 + 100
      4. Stasiun 0 + 150
      5. Stasiun 0 + 200
      Percobaan:
      a. Kerucut dimasukan kedalam tanah dasar sampai diameter paling besar
      b. Penetrasi diukur untuk setiap pukulan sampai maximum 40 pukulan.
      c. Satu orang mengopersikan petro meter mengangkat palu dan perlahan – lahan sampai mencapai bagian atas pemukul pegangan (Handel) lalu membiarkan palu jatuh dengan bebas sedemikian sehingga memukul landasan dan pastikan bahwa penetrometer dalam posisi vertikal.

      4. Lapisan perkerasan lentur jalan ada 4, yaitu:
      1. Lapisan Permukaan (surface course)
      2. Lapisan Pondasi Atas (base course)
      3. Lapisan pondasi bawah (subbase course)
      4. Lapisan tanah dasar (subgrade)

      5. Jenis-jenis lapis permukaan
      5.1. Burtu (laburan aspal satu lapis), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal yang ditaburi dengan satu lapis agregat bergradasi seragam, dengan tebal maksimum 2 cm
      5.2. Burda (laburan aspal dua lapis), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal ditaburi agregat yang dikerjakan dua kali secara berurutan dengan tebal padat maksimum 3.5 cm
      5.3. Latasir (lapisan tipis aspal pasir), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal dan pasiralam bergradasi menerus dicampur, dihampar dan dipadatkan pada suhu tertentu dengan tebal padat 1-2cm
      5.4. Buras (Laburan Aspal), Merupakan lapis penutup terdiri dari lapisan aspal taburan pasir dengan ukuran butir maksimum 3/8 inch
      5.5. Latasbum(Lapis tipis asbuton murni), merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran asbuton dan bahan pelunak dengan perbandingan tertentu yang dicampur secara dingin dengan tebal padat maksimum 1cm
      5.6. Lataston(Lapis tipis aspal beton), dikenal dengan nama hot roll sheet(HRS), merupakan lapis penutupyang terdiri dari campuran antara agregat bergradasi timpang, mineral pengisi(filter) dan aspal keras dengan perbandingan tertentu, yng dicampur dan dipadatkan dalam keadaan panas. Tebal padat antara 2.5-3cm
      6. Menurut Pendapat saya permukaan lentur pada jalan harus di tinggikan dengan menambah lapisan permukaan dan saluran drainase haru sdi lebarkan agar volume air yang mengalir saat hujan bias tertapung cara lain dengan membuat lebih dalam lagi saluran drainasenya apabila tidak bias di tambah lebar draiinasenya.
      7. Perlu, agar saat keadaan hujan air yang mengalir bias langsung terbuang ke saluran drainase, apabila tidak terdapat saluran drainase sering terjadinya banjir, apabila struktur jalan menggunakan aspal, pada sifat aspal melepaskan ikatanya terhadap batuan atau pasir akibatnya jalan jadi cepat rusak apabila tidak terdapat saluran drainase.

  7. Nama : Siswandi Prastyo
    NIM : 13011004

    1. Lapisan Pondasi bawah (subbase course) berada di bawah lapisan pondasi atas dan diatas lapisan tanah dasar. Berfungsi untuk menyebarkan beban roda dari lapisan pondasi bawah ke lapisan tanah dasar, dan juga sebagai lapisan peresapan agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.

    Lapisan pondasi atas (base course) terletak dilapisan dibawah lapisan permukaan. Berfungsi untuk menahan gaya lintang akibat beban roda dan meneruskan beban ke lapisan dibawahnya, sebagai bantalan terhadap lapisan permukaan.

    Lapisan Permukaan (surface course) merupakan lapisan paling atas pada jalan raya. Berfungsi sebagai penahan beban roda , karena lapisan ini memiliki stabilitas yang tinggi, kedap air untuk melindungi lapisan dibawahnya sehingga air mengalir ke saluran di samping jalan.

    2. Prosedur penggunaan DCP
    LANGKAH KERJA
    – Sambungkan seluruh bagian dan pastikan bahwa sambungan tangkai atas dengan landasan serta tangkai bawah dan kerucut baja sudah tersambung dengan kokoh
    – Pegangan alat yang sudah terpasang pada posisi tegak di atas dasar yang rata dan stabil,kemudian catat pembacaan 0 sebagai pembacaan awal pada mistar pengukur kedalaman
    Cara mengangkat dan menjatuhkan palu serta jumlah pukulan
    – Angkat palu pada tangkai bagian atas dengan hati-hati hingga menyentuh bagian handle
    – Lepaskan palu hngga jatuh bebas dan tertahan pada landasan. Lakukan langkah-langkah pada butir 1 dan 2 di atas sesuai dengan ketentuan sebagai berikut :

    = Apabila bahan atau tanah dasar yang diuji cukup keras,maka pencatatan harus dilakukan pada kedalaman 10 mm
    = Untuk pondasi bawah atau dasar yang terbuat dari bahan yang tidak keras maka harus dilakukan pembacaan kedalaman pada setiap 1 – 2 pukulan
    = Apabila kecepatan penetrasi kurang dari 0,5 mm / pukulan,maka pembacaan masih dibenarkan tapi bila setelah 20 pukulan tidak menunjukkan adanya penurunan maka pengujian dihentikan

    Cara mengangkat tangkai dan peralatan DCP
    – Siapkan bahwa peralatan akan diangkat atau dicabut ke atas
    – Angkat palu dan pukullah beberapa kali dengan arah ke atas sehingga menyentuh handle dan tangkai bawah terangkat ke atas permukaan tanah
    – Lepaskan bagian-bagian yang tersambung secara hati-hati dan simpan pada tempatnya

    Cara menentukan nilai CBR dengan menggunakan formulir DCP
    – Periksa kembali hasil pengujian di lapangan yang terdapat pada formulir dan hitung akumulai jumlah pukulan dan akumulasi penetrasi setelah dikurangi pembacaan awal
    – Gunakan formulir 2 DCP berbentuk sumbu tegak dan sumbu datar di mana pada bagian tegak menunjukkan kedalaman penetrasi dan arah horizontal menunjukkan jumlah pukulan
    – Plotkan hasil pengujian lapangan pada salib sumbu di atas
    – Tarik garis yang mewakili titik koordinat tertentu yang menunjukkan lapisan yang relative seragam
    – Hitung kedalaman lapisan yang mewakili titik tersebut,yaitu selisih antara perpotongan garis-garis yang dibuat pada butir 4 dalam mm
    – Hitung kecepatan penetrasi untuk setiap pukulan
    – Gunakan gambar grafik dengan cara menarik nilai kecepatan penetrasi pada sumbu horizontal ke atas sehingga memotong garis nomor 1
    – Tarik garis dan titik potong tersebut ke arah kiri sehingga nilai CBR dapat diketahui

    3. Spengujian dengan menggunakan alat DCP untuk mencari nilai CBR tanah. Lokasi pengujian di area parkir motor kampus unikom.
    CBR / California bearing ratio
    Didapat dari :
    = pengujian CBR lab, yaitu mengambil sample tanah kemudian dilakukan pengujian di laboratorium
    = pengujian penetrasi (cone penetrometer) dengan alat :
    DCP (dynamic cone penetrometer), berupa alat sederhana dengan indicator ukur dan beban tumbuk di atasnya.
    a. Peralatan
    – Pemberat 10 Kg (palu geser), dijatuhkan dari ketinggian 46,0 cm. sepanjang satu batang baja dengan diameter (d) = 1,6 cm untuk memukul suatu landasan.
    – Satu batang baja keras diameter (d) = 1,6 cm panjang 1,0 m dan dipasang kerucut naja keras dengan sudut 60 0.
    – Batang pengukur untuk mengukur Penetrasi ( ketelitian + 0,1 cm ), meter dan kunci.
    b. Persyaratan Pengujian
    Lokasi pemeriksaan dilakukan 1 percobaan per 50 m mendatar atau kebutuhan yang disyaratkan , Untuk daerah bukit 1 percobaan dan lembah 1 percobaan, biasanya ini dilakukan sebagai pekerjaan Quality Control pada pekerjaan pembuatan jalan.
    Proserdur Uji:
    A. Uji Lapangan
    – Pilih titik pada sumbu jalan, catat stasiun, nama jalan penghubung dan nomor, nama kabupaten.
    – Alat diletakan pada permukaan sub grade.
    – Periksa jenis bahan dan kondisi dari setiap lapisan tanah.
    – Pasang peralatan DCP dan pastikan alat siap diopersikan.
    – Dirikan peralatan pada kedudukan vertikal terhadap tanah dasar, dan ini sekarang merupakan kedudukan untuk memulai percobaan.
    B. Lokasi Pengetesan
    – Stasiun 0 + 000
    – Stasiun 0 + 050
    – Stasiun 0 + 100
    – Stasiun 0 + 150
    – Stasiun 0 + 200
    Percobaan:
    a. Kerucut dimasukan kedalam tanah dasar sampai diameter paling besar
    b. Penetrasi diukur untuk setiap pukulan sampai maximum 40 pukulan.
    c. Satu orang mengopersikan petro meter mengangkat palu dan perlahan – lahan sampai mencapai bagian atas pemukul pegangan (Handel) lalu membiarkan palu jatuh dengan bebas sedemikian sehingga memukul landasan dan pastikan bahwa penetrometer dalam posisi vertikal.

    4. (dari lapisan paling atas) : Lapisan permukaan – lapisan pondasi atas – lapisan pondasi bawah – tanah dasar.

    5. -Burtu (laburan aspal satu lapis) tebal maksimal 2cm.
    -Burda (laburan aspal dua lapis) tebal maksimum 3,5cm.
    -Latasir (laburan tipis aspal pasir) : campuran pasir dan aspal yang dipadatkan dengan suhu tertentu dengan tebal padat 1-2cm.
    -Buras (laburan aspal) : terdiri dari lapisan aspal dan pasir dengan ukuran butir maksimum 3/8 inch.
    -Latasbum (lapis tipis asbuton murni) : terdiri dari campuran asbuton dan bahan pelunak secara dingin dengan tebal maksimum 1cm.
    -Lataston (lapis tipis aspal beton) : terdiri dari campuran antara agregat bergradasi timpang, mineral pengisi, dan aspal keras yang dicampur dalam keadaan panas . tebal padat antara 2,5 – 3cm.

    6. Tentu saja jika drainase kurang baik , akhirnya air akan menggenang di jalan , karena tidak teraliri dengan baik ke saluran drainase. Dan kemudian jalan pun akan cepat berlubang/rusak akibat sering tergenang oleh air. Solusinya : dengan memperbaiki/memperbesar saluran drainase sehingga air yang tergenang di ruas jalan bisa di aliri dengan baik ke drainase.

    7. Sangat perlu , karena kemana lagi air di ruas jalan di aliri . Dilihat dari bentuk jalan saja sudah miring ke samping , tentulah di samping ruas jalan perlu/harus di sediakan saluran drainase agar air di ruas jalan tidak menggenang di ruas jalan yang nantinya akan merusak lapisan permukaan jalan.

  8. 1. Lapisan Pondasi Bawah (Subbase Course)
    Lapis pondasi bawah adalah lapisan perkerasan yang terletak di atas lapisan tanah dasar dan di bawah lapis pondasi atas.
    Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai :
    -Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
    -Lapis peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
    -Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi atas.
    -Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari beban roda-roda alat berat (akibat lemahnya daya dukung tanah dasar) pada awal-awal pelaksanaan pekerjaan.
    -Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari pengaruh cuaca terutama hujan.

    Lapisan pondasi atas (base course)
    Lapisan pondasi atas adalah lapisan perkerasan yang terletak di antara lapis pondasi bawah dan lapis permukaan.
    Lapisan pondasi atas ini berfungsi sebagai :
    -Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda dan menyebarkan beban ke lapisan di bawahnya.
    -Bantalan terhadap lapisan permukaan.
    -Bahan-bahan untuk lapis pondasi atas ini harus cukup kuat dan awet sehingga dapat menahan beban-beban roda.
    -Dalam penentuan bahan lapis pondasi ini perlu dipertimbangkan beberapa hal antara lain, kecukupan bahan setempat, harga, volume pekerjaan dan jarak angkut bahan ke lapangan.

    Lapisan Permukaan (Surface Course)
    Lapisan permukaan adalah lapisan yang bersentuhan langsung dengan beban roda kendaraan.
    Lapisan permukaan ini berfungsi sebagai :
    -Lapisan yang langsung menahan akibat beban roda kendaraan.
    -Lapisan yang langsung menahan gesekan akibat rem kendaraan (lapisaus).
    -Lapisan yang mencegah air hujan yang jatuh di atasnya tidak meresap ke lapisan bawahnya dan melemahkan lapisan tersebut.
    -Lapisan yang menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipikul oleh lapisan di bawahnya.

    2. Prosedur Analisis Data Pelaksanaan CBR dengan menggunakan alat DCP
    Pengujian dilakukan dengan menekan kerucut logam dengan spesifikasi tertentu masuk ke tanah dengan memakai pemberat khusus yang jatuh pada ketinggian tertentu. Penetrasi (dalam mm) diukur dan dicatat untuk setiap pukulan, dan kemudian dibuatkan referensi terhadap grafik korelasi untuk mendapatkan CBR yang bersangkutan.
    Prosedur percobaan DCP :
    – Letakkan penetrometer yang telah ditarik di atas permukaan tanah / sirtu yang akan diperiksa. Letakkan alat ini sedemikian rupa sehingga berada dalam posisi vertical,
    – Baca posisi awal penunjukan mistar ukur (Xo) dalam satuan mm yang terdekat.
    – Angkat palu penumbuk sampai menyentuh pemegang lalu lepaskan sehingga menumbuk landasan penumbuk. Tumbukan ini menyebabkan konus menembus tanah / lapisan sirtu dibawahnya.
    – Baca posisi penunjukan mistar ukur ( X1 ) setelah terjadi penetrasi.
    Untuk menganalisa dan menghitung nilai CBR, menggunakan metode grafis yaitu dengan memploting kedalaman penetrasi (Depth Penetration) versus Penetration Index. Setelah titik – titik terploting dicari regresi liniernya dan hasil garis regresinya

    3. pengujian dengan menggunakan alat DCP untuk mencari nilai CBR tanah. Lokasi pengujian di area parkir motor kampus unikom.
    CBR / California bearing ratio
    Didapat dari :
    – pengujian CBR lab, yaitu mengambil sample tanah kemudian dilakukan pengujian di laboratorium
    – pengujian penetrasi (cone penetrometer) dengan alat :
    DCP (dynamic cone penetrometer), berupa alat sederhana dengan indicator ukur dan beban tumbuk di atasnya.
    a. Peralatan
    – Pemberat 10 Kg (palu geser), dijatuhkan dari ketinggian 46,0 cm. sepanjang satu batang baja dengan diameter (d) = 1,6 cm untuk memukul suatu landasan.
    – Satu batang baja keras diameter (d) = 1,6 cm panjang 1,0 m dan dipasang kerucut naja keras dengan sudut 60 0.
    – Batang pengukur untuk mengukur Penetrasi ( ketelitian + 0,1 cm ), meter dan kunci.
    b. Persyaratan Pengujian
    Lokasi pemeriksaan dilakukan 1 percobaan per 50 m mendatar atau kebutuhan yang disyaratkan , Untuk daerah bukit 1 percobaan dan lembah 1 percobaan, biasanya ini dilakukan sebagai pekerjaan Quality Control pada pekerjaan pembuatan jalan.
    Proserdur Uji:
    A. Uji Lapangan
    – Pilih titik pada sumbu jalan, catat stasiun, nama jalan penghubung dan nomor, nama kabupaten.
    – Alat diletakan pada permukaan sub grade.
    – Periksa jenis bahan dan kondisi dari setiap lapisan tanah.
    – Pasang peralatan DCP dan pastikan alat siap diopersikan.
    – Dirikan peralatan pada kedudukan vertikal terhadap tanah dasar, dan ini sekarang merupakan kedudukan untuk memulai percobaan.
    B. Lokasi Pengetesan
    – Stasiun 0 + 000
    – Stasiun 0 + 050
    – Stasiun 0 + 100
    – Stasiun 0 + 150
    – Stasiun 0 + 200
    Percobaan:
    a. Kerucut dimasukan kedalam tanah dasar sampai diameter paling besar
    b. Penetrasi diukur untuk setiap pukulan sampai maximum 40 pukulan.
    c. Satu orang mengopersikan petro meter mengangkat palu dan perlahan – lahan sampai mencapai bagian atas pemukul pegangan (Handel) lalu membiarkan palu jatuh dengan bebas sedemikian sehingga memukul landasan dan pastikan bahwa penetrometer dalam posisi vertikal.
    .

    4. Lapisan perkerasan lentur jalan ada 4, yaitu:
    – Lapisan Permukaan (surface course)
    – Lapisan Pondasi Atas (base course)
    – Lapisan pondasi bawah (subbase course)
    – Lapisan tanah dasar (subgrade)

    5. Jenis-jenis lapis permukaan
    a. Burtu (laburan aspal satu lapis), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal yang ditaburi dengan satu lapis agregat bergradasi seragam, dengan tebal maksimum 2 cm
    b. Burda (laburan aspal dua lapis), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal ditaburi agregat yang dikerjakan dua kali secara berurutan dengan tebal padat maksimum 3.5 cm
    c. Latasir (lapisan tipis aspal pasir), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal dan pasiralam bergradasi menerus dicampur, dihampar dan dipadatkan pada suhu tertentu dengan tebal padat 1-2cm
    d. Buras (Laburan Aspal), Merupakan lapis penutup terdiri dari lapisan aspal taburan pasir dengan ukuran butir maksimum 3/8 inch
    e. Latasbum (Lapis tipis asbuton murni), merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran asbuton dan bahan pelunak dengan perbandingan tertentu yang dicampur secara dingin dengan tebal padat maksimum 1cm
    f. Lataston (Lapis tipis aspal beton), dikenal dengan nama hot roll sheet(HRS), merupakan lapis penutup yang terdiri dari campuran antara agregat bergradasi timpang, mineral pengisi(filter) dan aspal keras dengan perbandingan tertentu, yang dicampur dan dipadatkan dalam keadaan panas. Tebal padat antara 2.5-3cm

    6. Dampak yang terjadi pada ruas jalan tersebut akan berlubang karena terkena rendaman air,yang tidak teralirkan ke salurannya. Solusinya adalah menaikan ruas jalan, agar jalan lebih tinggi dibandingkan dengan saluran samping / drainase, sehingga air akan mengalir ke tempat yang lebih rendah.

    7. – Mengalirkan air hujan/air secepat mungkin keluar dari permukaan jalan dan selanjutnya dialirkan lewat saluran samping menuju saluran pembuang akhir.
    – Mencegahaliran air yang berasal dari daerah pengaliran disekitar jalan masuk kedaerah perkerasan jalan
    – Mencegah kerusakan lingkungan disekitar jalan akibat aliran air.
    – Menampung dan membuangair yang berasal dari permukaan jalan.
    – Menampung dan membuang air yang berasal dari daerah pengaliran sekitar jalan.
    – Dalam hal daerah pengaliran luas sekali atau terdapat air limbah maka untuk itu harus dibuat sistem drainase terpisah/tersendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s